Judul asli: Awwalu laylatin fi al-qabri ahwâlu al-qabri hadâ'iq al-mawti Kematian itu pasti. Ia tidak meleset meski hanya sedetik. Namun demikian, tak seorang pun tahu, kapan hari "H" nya. Ia bisa datang menyergap dengan tiba-tiba. Ia misteri. Karenanya, setiap orang semestinya selalu siap. Dan tentu, husnul khatimah harus menjadi pilihan. Untuk mencapai itu, harus melalui jalan syari'at; …
Indeks : hal. 281-285 Diterjemahkan dari buku aslinya : Al Mazhahir al-Ilahiyyah fi Asrar al-Ulum al-Kamaliyyah Kajian-kajian Ilahiah dan pengetahuan-pengetahuan ketuhanan sangat samar. la berupa jalan suluk yang pelik, yang tidak berhenti pada kebenarannya kecuali seorang demi seorang dan tidak ditunjukkan pada esensinya kecuali pendatang demi pendatang. Barangsiapa ingin menyelami lauta…
Eksistensi manusia terkait erat dengan eksistensi Tuhan, karena melalui hubungan ini, eksistensi diri manusia dapat dimaknai dalam sampai taraf tertentu. Tapi kemudian, pusat eksistensi itu telah menjadi kabur oleh cara pandang materialisme dan naturalisme. Ini kemudian melahirkan krisis modernitas. Rasionalisme dan empirisme yang menjadi dasar kehidupan modern, harus dibelokkan ke arah yang be…
Glosarium: 333 hlm - 338 hlm Indeks: 339 hlm - 341 hlm
Luka-luka menumpahkan kata-kata dari lubuk hati kita, hidup, bermandikan kerinduan, seperti embusan taman surgawi. Ia membawa kabar gembira tentang esok yang akan datang, bersinar dengan petunjuk dan cahaya, diterjemahkan oleh tangan harapan dan derita menjadi syair. Ketika darah yang mengalir bercampur dengan perasaan dan pena, huruf-huruf mengalir seperti luka, menyalakan c…
Syekh Muhammad Arsyad al-Banjary bin Abdullah, lahir di sebuah desa dekat kota Martapura, Kalimantan Selatan sekita tahun 1707 M, dimasa pemerintahan Sultan Tahlilullah (1700-1734). Semenjak kecil sudah tampak ciri-ciri yang luar biasa pada dirinya, di antaranya kecerdasan serta sikap sopan santunnya, sehingga sang Sultan mengirimnya ke Makkah untuk memperdalam ilmu agama Islam. Di Makkah, ia…
Syekh Muhammad Arsyad al-Banjary bin Abdullah, lahir di sebuah desa dekat kota Martapura, Kalimantan Selatan sekita tahun 1707 M, dimasa pemerintahan Sultan Tahlilullah (1700-1734). Semenjak kecil sudah tampak ciri-ciri yang luar biasa pada dirinya, di antaranya kecerdasan serta sikap sopan santunnya, sehingga sang Sultan mengirimnya ke Makkah untuk memperdalam ilmu agama Islam. Di Makkah, ia…